Ketgam : Suasana diskusi yang hangat di Meja Bundar Warkop Camidu diantaranya Dr Suprians Politisi Golkar,, Selle KS Dalle Wakil Bupati Sopppeng, H Sakka Legislator DPRD Sulsel, Alfred Ketua LPKN dan Ketua IWO Soppeng Kamaruddin,Jumat 15/5/2026.
SOPPENG,MEDIATA.CO.ID-- Di tengah hiruk-pikuk aktivitas kota Watansoppeng, tepatnya di salah satu sudut jalan yang selalu ramai dilalui warga, berdiri sebuah bangunan sederhana bernama Warkop Camidu.
Tampilannya tak jauh berbeda dari warung kopi pada umumnya, meja kayu dan plastik yang tertata sederhana, aroma kopi tubruk yang khas menguar ke udara, serta deretan pengunjung yang datang dan pergi.
Namun, di balik kesederhanaan itu, tempat ini menyimpan banyak cerita penting. Warkop Camidu beberapa waktu terakhir menjadi saksi sekaligus ajang pertemuan tokoh tokoh penting dan punya pengaruh di daerah ini.
Seperti pertemuan yang terjadi pada Hari Jumat 15/5/20256. Tiga tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh besar di Kabupaten Soppeng, yaitu Selle KS Dalle (Wakil Bupati Soppeng), H. Sakka (Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dan Supriansa Anggota DPR RI priode 2019 - 2024.
Pertemuan ini menjadi sorotan banyak pihak karena ketiga sosok tersebut selain dikenal bersahabat dari dulu juga dikenal memiliki karakter, peran, dan visi yang saling melengkapi dalam memajukan kepentingan warga.
Selle dikenal sebagai sosok yang vokal, dekat dengan masyarakat, dan piawai dalam menyuarakan aspirasi yang terpendam. Ia selalu menjadi jembatan antara warga dengan pihak terkait dalam menyampaikan berbagai kebutuhan dan permasalahan yang ada.
Sementara itu, H. Sakka adalah figur yang dihormati karena perjuangannya yang panjang hingga menjadi Anggota DPRD Provinsi Sulsel dari PKB.
Di sisi lain, Supriansa hadir sebagai mantan Wakil Bupati Soppeng dan mantan Anggota DPR RI dan Politisi Golkar yang handal dan memiliki ketegasan serta punya kemampuan menggerakkan langkah nyata. Ia dikenal sebagai sosok yang tak hanya pandai berbicara, tetapi juga sigap mewujudkan gagasan menjadi tindakan.
Pilihan Warkop Camidu sebagai tempat pertemuan bukanlah kebetulan semata. Bagi mereka, tempat ini memiliki suasana yang akrab, terbuka, dan jauh dari kesan formal yang kaku. Di sini, diskusi bisa berlangsung dengan leluasa, jujur, dan mendalam seolah tidak ada sekat antara satu sama lain.
Di salah satu meja pojok yang sering menjadi tempat favorit, ketiganya duduk berhadapan, ditemani secangkir kopi panas dan teh tarik dingin serta camilan sederhana.
Di tengah suara percakapan pengunjung lain dan dentingan gelas, mereka berdiskusi membahas berbagai hal krusial dengan suasana santai.
Diskusi dan bincang bincang tersebut berjalan hangat namun serius dan sesekali terdengar gelak tawa diantara mereka
Pertemuan ini membuktikan bahwa perbedaan latar belakang dan karakter justru menjadi kekuatan saat disatukan dalam satu tujuan yang sama, yaitu kesejahteraan masyarakat.
Beberapa waktu terakhir, nama Warkop Camidu kian dikenal bukan hanya sebagai tempat melepas dahaga atau sekadar tempat nongkrong biasa. Tempat ini kini memiliki nilai tersendiri di mata masyarakat. Banyak orang yang datang ke sini tidak hanya untuk menikmati kopi, tetapi juga ingin merasakan atmosfer di mana gagasan-gagasan besar lahir dari pertemuan berbagai tokoh di Warkop ini.
Hingga kini, Warkop Camidu masih berdiri dengan segala kesederhanaannya. Meski waktu terus berjalan dan wajah kota berubah, warung kopi ini tetap setia menyimpan kenangan akan momen penting itu.
Ini menjadi bukti nyata bahwa tempat yang sederhana pun bisa menjadi panggung bagi pertemuan bersejarah yang melahirkan perubahan positif. Bagi warga sekitar, kisah pertemuan Selle, H. Sakka, dan Supriansa di Warkop Camidu adalah pengingat bahwa persatuan dan kerja sama adalah kunci utama dalam membangun lingkungan yang lebih baik.



