Menjemput Ridha Langit di Tanah Soppeng: Filosofi di Balik Soppeng SETARA: Sehat, Maju, dan Berdaya Saing Berbasis Agropolitan""

mediata
Wednesday, February 4, 2026, February 04, 2026 WIB Last Updated 2026-02-05T04:03:16Z

Oleh : JUMIAR, ST.MM

(Refleksi  satu Tahun kepemimpinan H. Suwardi Haseng  dan Selle KS Dalle)

I. PENDAHULUAN
Kepemimpinan daerah bukan sekadar manajemen administratif, melainkan sebuah manifestasi filosofis dalam mengelola peradaban. Di Kabupaten Soppeng, kehadiran pasangan H. Suwardi Haseng dan Ir. Selle KS Dalle (SUKSES) membawa narasi baru yang memerlukan pembacaan kritis secara multidimensi. Melalui visi "Soppeng SETARA: Sehat, Maju, dan Berdaya Saing Berbasis Agropolitan", kepemimpinan ini berusaha menjawab tantangan zaman tanpa mencerabut akar jati diri daerah

. Esai ini akan membedah visi tersebut melalui tiga pilar filsafat—Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi—dengan perspektif wahyu sebagai kompas moralnya.

II. PERSPEKTIF ONTOLOGI: Hakikat "Soppeng SETARA" sebagai Takdir dan Identitas Secara Ontologis, visi ini merupakan upaya pendefinisian ulang terhadap hakikat eksistensi Bumi Latemmamala. Pembangunan di Soppeng tidak dipandang sebagai entitas agraris statis yang terkunci oleh determinisme geografis, melainkan sebagai subjek dinamis yang sedang bertransformasi menuju kesetaraan kualitas hidup.

Dalam perspektif Wahyu, kemajuan adalah mandat I’mar al-Ard (memakmurkan bumi) sebagaimana tertuang dalam QS. Hud: 61. Secara hakiki, potensi alam Soppeng—dari lembah Walennae hingga komoditas sutra—adalah "Takdir Geografis" yang diberikan Tuhan (Keharusan Universal). Visi SETARA meletakkan dasar bahwa keadilan dimulai dari pengakuan terhadap potensi lokal (Agropolitan) yang diintegrasikan dengan tuntutan modernitas, menciptakan daerah yang maju secara materiil namun tetap kokoh secara spiritual.

III. PERSPEKTIF EPISTEMOLOGI: Wahyu dan "Suwardinomiks" sebagai Metodologi
Pada ranah Epistemologi, tantangannya adalah "bagaimana" mewujudkan kesetaraan tersebut. Kepemimpinan SUKSES mengadopsi pendekatan teknokratis yang kini dikenal sebagai "Suwardinomiks"—sebuah metodologi yang menyelaraskan nalar korporasi (efisiensi) dengan spirit Ulul Albab (nalar kritis).

1. Burhani (Rasio & Sains): Penggunaan digitalisasi birokrasi, sistem manajemen talenta ASN (Meritokrasi), dan inovasi fiskal tanpa menaikkan pajak. Ini adalah penggunaan "Akal" untuk membaca hukum ekonomi demi kemandirian daerah.

2. Bayani (Otoritas Wahyu): Menjadikan nilai-nilai Al-Qur'an sebagai filter etis. Perintah Iqra’ (QS. Al-Alaq: 1) diterjemahkan ke dalam kebijakan pendidikan dan kesehatan untuk membebaskan masyarakat dari ketidaktahuan dan kerentanan fisik.
Secara epistemologis,  menyatukan Kebenaran Wahyu (nilai abadi) dengan Kebenaran Empiris (teknologi) untuk melahirkan kebijakan yang presisi, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan (Accountable).
Keberhasilan visi ini secara epistemologis juga didukung oleh perpaduan karakter kepemimpinan pasangan ini. H. Suwardi Haseng membawa karakter pengusaha yang pragmatis-strategis (akal praktis); ia memahami bagaimana hukum pasar bekerja dan bagaimana cara mengeksekusi peluang secara cepat. 

Di sisi lain, Ir. Selle KS Dalle melengkapi dengan karakter legislator yang kritis dan idealis (akal teoritis-etis); ia memastikan setiap kebijakan selaras dengan regulasi dan berpihak pada kepentingan rakyat kecil. Perpaduan ini menciptakan model kepemimpinan yang tidak hanya "bisa bekerja" secara teknis, tetapi juga "memiliki hati" secara moral.

IV. TRANSISI: Dari Teori ke Manifestasi

Bangunan epistemologi yang kokoh tidaklah memadai jika hanya berhenti sebagai diskursus intelektual. Pengetahuan tentang 'apa' yang hakiki (Ontologi) dan 'bagaimana' cara mengetahuinya (Epistemologi) menuntut sebuah pembuktian konkret dalam realitas sosial. Di sinilah visi SETARA bertransformasi menjadi mandat moral yang mewujud dalam gerak Aksiologi. Jika wahyu memberikan kompas dan akal menyediakan peta, maka aksiologi adalah langkah kaki untuk menempuh perjalanan menuju keadilan sosial.

V. PERSPEKTIF AKSIOLOGI: Keadilan Sosial dan Humanisme Islam
Aksiologi mengukur kemanfaatan visi bagi kemanusiaan. Program unggulan pasangan SUKSES adalah bentuk nyata dari Keadilan Sosial (Al-’Adalah al-Ijtima’iyyah) dan Humanisme Islam (Insaniyyah):
• Humanisme: Jaminan sosial  dan Kesehatan bagi masyarakat  adalah cara memuliakan manusia sesuai QS. Quraysh:

 4. • Keadilan melalui Agropolitan: Strategi agar nilai ekonomi tidak hanya berputar di kalangan pemilik modal besar (QS. Al-Hashr: 7), tetapi dirasakan oleh petani di pelosok melalui Liatrik Masuk sawah 
• Investasi SDM: Pemberian Bantuan Seragam bagi Anak Sekolah  adalah upaya "humanisasi"—mengangkat martabat warga dari kegelapan ketidaktahuan menuju cahaya intelektual.

VI. KESIMPULAN
Visi pasangan SUKSES adalah sebuah arsitektur  depan yang berdiri di atas integrasi yang harmonis. Secara Ontologis, ia memperkuat jati diri; secara Epistemologis, ia menggunakan nalar "Suwardinomiks" yang dibimbing wahyu; dan secara Aksiologis, ia bermuara pada pemuliaan martabat manusia.

"Soppeng SETARA" bukan lagi sekadar narasi politik, melainkan sebuah Ikhtiar Kolektif untuk menjemput ridha langit di atas tanah Bumi Latemmamala. Inilah kompas pembangunan yang menempatkan rakyat sebagai subjek, ilmu sebagai alat, dan pengabdian sebagai ibadah.
________________________________________
Komentar

Tampilkan

  • Menjemput Ridha Langit di Tanah Soppeng: Filosofi di Balik Soppeng SETARA: Sehat, Maju, dan Berdaya Saing Berbasis Agropolitan""
  • 0
<>

Terkini

Topik Populer