(Refleksi satu Tahun kepemimpinan H. Suwardi Haseng dan Selle KS Dalle)
I. PENDAHULUAN
Kepemimpinan daerah bukan sekadar manajemen administratif, melainkan sebuah manifestasi filosofis dalam mengelola peradaban. Di Kabupaten Soppeng, kehadiran H. Suwardi Haseng dan Ir. Selle KS Dalle (SUKSES) sebagai Bupati Soppeng Periode 2025-2030 membawa narasi baru yang memerlukan pembacaan kritis secara multidimensi.
Melalui visi "Soppeng yang Lebih Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan", kepemimpinan ini berusaha menjawab tantangan zaman tanpa mencerabut akar jati diri daerah. Esai ini akan membedah visi tersebut melalui tiga pilar filsafat—Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi—dengan perspektif wahyu sebagai kompas moralnya.
II. PERSPEKTIF ONTOLOGI: Hakikat "Soppeng Maju" sebagai Takdir dan Identitas
Secara Ontologis, visi ini merupakan upaya pendefinisian ulang terhadap hakikat eksistensi Bumi Latemmamala. Pembangunan di Soppeng tidak dipandang sebagai entitas agraris statis yang terkunci oleh determinisme geografis, melainkan sebagai subjek dinamis yang sedang bertransformasi menuju kesetaraan kualitas hidup.
Dalam perspektif Wahyu, kemajuan adalah mandat I’mar al-Ard (memakmurkan bumi) sebagaimana tertuang dalam QS. Hud: 61. Secara hakiki, potensi alam Soppeng—mulai dari lembah Walennae hingga pegunungan penghasil sutra—adalah "Takdir Geografis" yang diberikan Tuhan (Keharusan Universal).
Ontologi visi SUKSES meletakkan dasar bahwa kemajuan sejati dicapai ketika identitas luhur daerah diintegrasikan dengan tuntutan modernitas, menciptakan sebuah daerah yang maju secara materiil namun tetap kokoh secara spiritual.
III. PERSPEKTIF EPISTEMOLOGI: Wahyu dan Sains sebagai Metodologi Pencapaian
Pada ranah Epistemologi, tantangannya adalah "bagaimana" mewujudkan kemajuan tersebut. Kepemimpinan SUKSES mengadopsi pendekatan teknokratis berbasis data yang selaras dengan spirit Ulul Albab (orang yang menggunakan akal). Metodologi ini memadukan dua sumber kebenaran:
1. Burhani (Rasio & Sains): Penggunaan digitalisasi birokrasi, sistem manajemen talenta ASN, dan teknologi hilirisasi pertanian. Ini adalah penggunaan "Akal" untuk membaca hukum alam (Sains) demi efisiensi.
2. Bayani (Otoritas Wahyu): Menjadikan nilai-nilai Al-Qur'an sebagai filter etis. Perintah Iqra’ (QS. Al-Alaq: 1) diterjemahkan ke dalam kebijakan pendidikan dan literasi untuk membebaskan masyarakat dari kebodohan.
Secara epistemologis, visi ini menyatukan Kebenaran Wahyu (nilai abadi) dengan Kebenaran Empiris (teknologi) untuk melahirkan kebijakan yang presisi, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan (Accountable).
Sinergi Karakter: Antara Pragmatisme Cerdas dan Idealisme Terukur
Keberhasilan visi ini secara epistemologis juga didukung oleh perpaduan karakter kepemimpinan pasangan ini. H. Suwardi Haseng membawa karakter pengusaha yang pragmatis-strategis (akal praktis); ia memahami bagaimana hukum pasar bekerja dan bagaimana cara mengeksekusi peluang secara cepat.
Di sisi lain, Ir. Selle KS Dalle melengkapi dengan karakter legislator yang kritis dan idealis (akal teoritis-etis); ia memastikan setiap kebijakan selaras dengan regulasi dan berpihak pada kepentingan rakyat kecil. Perpaduan ini menciptakan model kepemimpinan yang tidak hanya "bisa bekerja" secara teknis, tetapi juga "memiliki hati" secara moral.
IV. TRANSISI: Dari Teori ke Manifestasi
Bangunan epistemologi yang kokoh tidaklah memadai jika hanya berhenti sebagai diskursus intelektual. Pengetahuan tentang 'apa' yang hakiki (Ontologi) dan 'bagaimana' cara mengetahuinya (Epistemologi) menuntut sebuah pembuktian konkret dalam realitas sosial.
Di sinilah visi SUKSES bertransformasi menjadi mandat moral yang mewujud dalam gerak Aksiologi. Jika wahyu memberikan kompas dan akal menyediakan peta, maka aksiologi adalah langkah kaki untuk menempuh perjalanan menuju keadilan.
V. PERSPEKTIF AKSIOLOGI: Keadilan Sosial dan Humanisme Islam
Aksiologi mengukur kemanfaatan visi bagi kemanusiaan. Dalam perspektif ini, program unggulan pasangan SUKSES adalah bentuk nyata dari Keadilan Sosial (Al-’Adalah al-Ijtima’iyyah) dan Humanisme Islam (Insaniyyah):
• Humanisme : Jaminan sosial bagi petani, pekebun, hingga penggali kubur adalah cara memuliakan manusia sesuai QS. Quraysh: 4. Ini menjamin rasa aman warga dari risiko kehidupan (Keharusan Universal).
• Keadilan melalui Hilirisasi: Strategi agar nilai ekonomi tidak hanya berputar di kalangan pemilik modal besar (QS. Al-Hashr: 7), tetapi juga dirasakan oleh petani kecil melalui peningkatan nilai tambah produk lokal.
• Investasi SDM: Pemberian beasiswa adalah upaya "humanisasi"—mengangkat martabat warga dari kegelapan ketidaktahuan menuju cahaya intelektual.
VI. KESIMPULAN
Visi Bupati dan Wakil Soppeng sebuah arsitektur masa depan yang berdiri di atas integrasi yang harmonis. Secara Ontologis, ia memperkuat jati diri; secara Epistemologis, ia menggunakan nalar sains yang dibimbing wahyu; dan secara Aksiologis, ia bermuara pada pemuliaan martabat manusia.
"Soppeng yang Lebih Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan" bukan lagi sekadar narasi politik, melainkan sebuah Ikhtiar Kolektif untuk menjemput ridha langit di atas tanah Bumi Latemmamala. Inilah kompas pembangunan yang menempatkan rakyat sebagai subjek, ilmu sebagai alat, dan pengabdian sebagai ibadah


